Home SAR Hidayatullah JATIM Diklat Singkat, SAR Hidayatullah Jatim Transfer Skill Kepada Mahasantri Ma’had Ali Surabaya

Diklat Singkat, SAR Hidayatullah Jatim Transfer Skill Kepada Mahasantri Ma’had Ali Surabaya

by admin
0 comment

SURABAYA (www.sarhidjatim.com) – SAR (Search and Rescue) Hidayatullah Jawa Timur bekali santri baru Ma’had Ali Darul Arqam Hidayatullah Surabaya dengan keterampilan SAR dan survival dasar.

Selama 5 hari (9-13/9/2019) Ma’had Ali Darul Arqam Hidayatullah Surabaya menyelenggarakan kegiatan orintasi dan pengenalan kampus bagi mahasantri barunya. Kegiatan ini dilakukan full time mulai pagi sampai malam hari. Selain kegiatan yang sifatnya formal masa orientasi ini juga dimaksimalkan dengan kegiatan kegiatan ibadah umum di pondok pesantren. Mulai dari wirid pagi dan petang, sholat lain halaqoh qur’an dan lain sebagainya. Diantara rangkaian kegiatan masa orintasi tersebut SAR (Search and Rescue) Hidayatullah Jawa Timur dipercaya menjadi pengisi materi.

Shoffan, ketua panitia rangkaian kegiatan orientasi dan pengenalan kampus mahasantri  Ma’had Ali Darul Arqam Surabaya menyampaikan bahwa pihaknya sengaja mengundang khusus team SAR (Search and Rescue) Hidayatullah Jawa Timur untuk memberikan materi materi dasar tentang SAR. Hal ini dimaksudkan agar semua mahasantri mempunyai pemahaman tentang skill dasar SAR khususnya ilmu survival dan mountainering. Lebih dari itu  adalah agar para mahasantri siap diterjunkan untuk membantu korban bencana, bila dibutuhkan.

Sengaja kami hadirkan team khusus dari SARHID JATIM untuk mengisi selama 2 hari dalam rangaian kegiatan orientasi dan pengenalan kampus ini. Harapannya agar bisa memberikan pemahaman dan penguasaan skill dasar tentang dunia SAR khususnya materi  survival dan mountainering pada mahasantri disini. Harapannya agar mereka siap dan ada bekal bila nantinya diterjunkan ke tempat bencana menjadi relawan” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi sesuatu yang sangat penting  karena selain ditarget dalam aspek akademik dan hafalan tuntas 30 juz mahasantri Ma’had Ali Darul Arqam Surabaya juga diwajibkan mempunyai jasadiyah yang kuat dan tahan banting. Dimana salah satu kegiatan jasadiyahnya adalah pendakian gunung. Sehingga ketrampilan tentang SAR dan survival sangat mereka butuhkan ketika melakukan kegiatan di alam bebas.

“materi yang disampaikan oleh teman teman SARHID JATIM ini sangat berguna sekali bagi mahasantri disini. Karena selain harus menghafal 30 juz mereka juga di tuntut memiliki fisik yang kuat yang salah satu bentuk latihannya adalah pendakian gunung. Sehingga materi dan skill  SAR ini sangat penting untuk mereka ketahui dan miliki” Tambahnya.

Diklat SAR ini berlangsung selama 2 hari yaitu hari selasa dan rabu. Dihari pertama materi teori dan pengenalan terkait dunia SAR khususnya SAR Hidayatullah Jawa Timur. Alim Puspianto selaku ketua SAR Hidayatullah Jawa Timur turun langsung sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya dia menyampaikan bahwa materi yang team SAR berikan ini adalah pengenalan saja. Karena waktu yang diberikan kepada team SARHID hanya 2 hari. Padalah ideal DIKLAT SAR itu adalah 10 hari. Maka Alim mengemas dan memberikan nama untuk kegiatan ini adalah DIKLAT KILAT SARHID JATIM.

Yang kita sampaikan ini masih tergolong pengenalan saja. Karena waktu DIKLAT di SARHID ini idealnya adalah 10 hari. Sehingga bolehlah kita namakan kegiatan ini sebagai DIKLAT KILAT ” tuturnya sambil tersenyum.

Hari kedua mahasantri diajak untuk mempraktekkan langsung teknik teknik yang sudah diajarkan dihari sebelumnya. Diantara meterinya adalah Survival yaitu mempraktekkan cara membuat api atau fire making dengan fire starter. Dosen STAIL tersebut menjelaskan bahwa teknik membuat api dengan fire starter ini  sangat diperlukan dalam kondisi darurat seperti saat pendakian dengan cuaca buruk semisal saat turun hujan. maka teknik membuat api ini menjadi sangat bermanfaat karena alat ini juga tahan terhadap dingin dan air.

Keahlian fire makin dengan fire starter ini sangat bermanfaat sekali terutama disaat cuaca dan kondisi kurang bersahabat. Kelebihan alat fire starter ini adalah tahan air” tambahnya.

Materi selanjutnya adalah signaling mirror, dimana seluruh peserta diajak praktek memberikan signal dengan alat yang bernama heliograf. Signalling mirror ini dibutuhkan ketika tersesat misalnya tersesat di tengah hutan atau terombang ambing di tengah lautan karena kapal yang ditumpangi karam. Heliograf ini mampu memantulkan cahaya yang bisa ditangkap hingga jarak 72 km. Sehingga orang yang melihatnya akan mudah melakukan pencarian dititik mana cahaya tersebut berasal.

Untuk materi mountainering disampaikan oleh komandan Muzammil selaku instruktur  SAR Hidayatullah Jawa Timur. Selain pengenalan alat, para mahasantri diajak praktek teknik prusiking dan jumaring. Kedua teknik ini merupakan bagian dari keterampilan vertical rescue yang sangat dibutuhkan ketika kita mau menolong korban yang jatuh ke jurang atau semisalnya. Kedua teknik ini sebenarnya sama, yang membedakan adalah prusiking hanya menggunakan tali prusik sedangkan jumaring dibantu dengan alat yang bernama jumar. Kemudian tenaga yang diperlukan juga berbeda, jika teknik yang pertama (prusiking) lebih banyak tenaga yang dikeluarkan dibandingkan dengan teknik jumaring.

By: Sang Pejuang

You may also like

Leave a Comment