SAR Hidayatullah Wilayah Jawa Timur bersama jajaran pengurus dan relawannya mengikuti kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema Workshop Basic Life Support (BLS) yang diselenggarakan Forum Komunikasi Pencegahan dan Penanggulangan Potensi Pencarian dan Pertolongan (FKP3), Jumat (23/5/2026) di SETC (Sampoerna Entrepreneurship Training Center) Pasuruan.
![]()
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Sampoerna Rescue, Dr. Kukuh, serta dihadiri sejumlah unsur strategis kebencanaan dan penyelamatan, di antaranya Kepala Kantor SAR (Kansar) Surabaya dan Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur.
Keikutsertaan SAR Hidayatullah Jawa Timur dipimpin langsung Ketua SAR Hidayatullah Wilayah Jawa Timur beserta jajaran pengurus dan relawan sebagai bentuk komitmen meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang pertolongan dan penanganan kegawatdaruratan.
Dalam pemaparannya, Dr. Kukuh menjelaskan bahwa kemampuan Basic Life Support merupakan keterampilan dasar yang penting dimiliki seluruh lapisan masyarakat, terutama relawan kemanusiaan dan tim penyelamat.
“BLS adalah kemampuan dasar yang harus dikuasai masyarakat umum karena kondisi darurat dapat terjadi kapan saja. Penanganan awal yang tepat sangat menentukan keselamatan korban,” ujarnya.
Ia menerangkan bahwa setiap kondisi kegawatdaruratan membutuhkan metode penanganan berbeda sesuai jenis kasusnya. Pada korban henti napas misalnya, tindakan CPR wajib dilakukan menggunakan teknik ACB (airway, circulation, breathing).
Sementara dalam kasus pendarahan, langkah utama yang harus dilakukan ialah menghentikan pendarahan terlebih dahulu sebelum melanjutkan tindakan CPR.
“Kesalahan penanganan di awal bisa berdampak fatal. Karena itu edukasi dan pelatihan seperti ini sangat penting untuk terus dimasifkan,” katanya.
Workshop berlangsung interaktif dengan sesi simulasi penanganan korban darurat. Para peserta mendapat praktik langsung teknik CPR, penanganan henti napas, hingga penghentian pendarahan darurat.
Ketua SAR Hidayatullah Wilayah Jawa Timur menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan relawan di lapangan. Menurutnya, relawan SAR tidak hanya dituntut cepat dalam merespons kejadian, tetapi juga harus memahami prosedur penyelamatan yang benar dan sesuai standar.
“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk meningkatkan kompetensi relawan. Pengetahuan BLS menjadi bekal dasar yang wajib dimiliki karena relawan sering menjadi pihak pertama yang berada di lokasi kejadian,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu peserta menilai pengenalan materi BLS masih perlu diperluas kepada masyarakat umum. Sebab, banyak kejadian kegawatdaruratan di lingkungan sekitar yang belum tertangani secara tepat akibat kurangnya pemahaman dasar pertolongan pertama.
“Materi BLS sangat perlu dikenalkan dan dimasifkan kepada masyarakat karena banyak kasus di lapangan yang penanganannya masih kurang tepat,” ungkapnya.
Melalui kegiatan tersebut, FKP3 bersama berbagai unsur relawan dan lembaga kemanusiaan berharap terbentuk masyarakat yang lebih sigap, tanggap, dan memiliki kemampuan dasar pertolongan pertama dalam menghadapi situasi darurat maupun bencana.