SURABAYA, 24 Mei 2026 – Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al Hakim (STAIL) yang tergabung dalam organisasi Lukman al-Hakim Pecinta Alam (LAPALA) binaan SAR Hidayatullah Jawa Timur ikuti Monitoring Mangrove perdana bersama MAPALA se-Surabaya di kawasan sungai Kejawan Putih Tambak, Dermaga 2 Surabaya.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai ini menjadi salah satu upaya nyata generasi muda dalam menjaga kelestarian ekosistem pesisir kota Surabaya. Monitoring mangrove ini memiliki fokus utama pada pengecekan kondisi bibit mangrove yang telah ditanam sebelumnya. Pembersihan sampah di sekitar area perakaran, serta pengukuran pertumbuhan vegetasi pesisir tersebut.
Kawasan Kejawan Putih Tambak dipilih secara khusus karena merupakan salah satu zona sabuk hijau (greenbelt). Kawasan ini dinilai penting karena perannya menjaga ekosistem pesisir dari ancaman abrasi dan menjaga kualitas lingkungan pesisir yang sehat.
Sebagai bagian dari binaan SAR Hidayatullah Jawa Timur, LAPALA tidak hanya menekankan pada penanaman mangrove, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan tanaman yang telah ditanam dapat tumbuh dan bertahan hidup.
“Monitoring ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi juga evaluasi terhadap keberlangsungan hidup mangrove yang telah ditanam. Data yang dikumpulkan akan menjadi dasar evaluasi pada agenda monitoring berikutnya”. Ujar salah satu anggota LAPALA.
Meski medan di sekitar Dermaga 2 cukup berlumpur dan menantang, antusiasme para anggota LAPALA dan MAPALA lain terlihat nyata. Mereka dengan sigap menyusuri tepian sungai untuk mendata satu persatu pohon mangrove. Memastikan setiap tanaman mendapatkan perhatian yang layak. Aktivitas ini juga mencerminkan semangat kolaborasi antar organisasi pecinta alam di Surabaya dalam melestarikan lingkungan.
Dari hasil monitoring, nantinya akan diperoleh data kelulusan hidup (survival rate) tanaman mangrove yang menjadi indikator utama keberhasilan program penghijauan pesisir ini. Kegiatan berjalan dengan lancar dan diharapkan menjadi pemantik bagi konsistensi generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Keberlanjutan aksi ini diyakini dapat memberi dampak positif bagi ekosistem pesisir, sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peran aktif dalam pelestarian lingkungan.
Dengan langkah-langkah kecil namun konsisten seperti ini, LAPALA dan MAPALA se-Surabaya membuktikan bahwa generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga bumi tetap hijau dan lestari.
(Basri)
